Urgensi Tulisan Arab Melayu (TAM) Menjadi Muatan Lokal Wajib di Kurikulum Madrasah Berbasis Kearifan Lokal

  • Share

                                                          Oleh:
Lya Vita Ferdana, S.Si., Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd., MM., Dosen Magister Teknologi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Desain kurikulum adalah suatu rancangan yang disusun secara sistematis untuk memandu proses pendidikan yang berorientasi pada tujuan pendidikan secara utuh dan menyeluruh. Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang menekankan pada nilai-nilai ajaran Islam secara fundamental. Tujuan utama pendidikan di madrasah adalah untuk menciptakan manusia yang berakhlak mulia, berpegang teguh pada nilai-nilai agama Islam, dan memiliki kesadaran tinggi untuk menjadi individu yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Salah satu alternatif rancangan desain kurikulum yang dapat mencakup kebutuhan tersebut yaitu desain kurikulum madrasah yang berbasis kearifan lokal.

Kearifan lokal mencerminkan warisan budaya dan nilai-nilai yang melekat dalam masyarakat. Dalam konteks madrasah, mengintegrasikan kearifan lokal dalam kurikulum dapat membantu mempertahankan identitas keagamaan dan budaya yang khas. Hal ini penting agar siswa dapat memahami dan menghargai akar budaya dan tradisi keagamaan mereka sendiri. Salah satu kearifan lokal yang identik dengan pendidikan di madrasah yaitu muatan lokal Tulisan Arab Melayu (TAM).

Pembelajaran TAM pada awalnya merupakan salah satu muatan lokal yang di munculkan pada kurikulum, khususnya kurikulum pendidikan di Provinsi Kepulauan Riau. Akan tetapi, pada perkembangannya saat ini, muatan lokal ini justru menghilang (tidak ada lagi-red). Padahal, pembelajaran TAM dapat membantu siswa mengembangkan hubungan yang lebih kuat dengan warisan budaya dan identitas agama di masyarakat yang berbasis agama Islam, khususnya di Tanah Melayu. Mempelajari TAM, siswa dapat memperkuat pemahaman mereka dengan tradisi dan praktik-praktik keagamaan yang diteruskan dalam kitab-kitab agama bertuliskan Arab Melayu.

Menghidupkan kembali muatan lokal TAM dapat memberikan manfaat praktis bagi siswa. Tulisan Arab Melayu (TAM) dapat kita jumpai dalam beberapa literatur kitab-kitab agama yang masih di pelajari hingga saat ini. TAM juga digunakan dalam tulisan karya-karya sastra masa lampau. Dengan menguasai TAM ini, siswa diharapkan dapat melaksanakan amalan keagamaan dengan ( yang ) lebih baik, memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung dari berbagai literatur keagamaan, dan juga dapat mengambil pesan moral dari setiap kisah sejarah yang di tulis pada masa lampau. Oleh karena peran dan manfaatnya yang masih cukup vital, sudah seharusnya muatan lokal TAM dapat kembali dimunculkan dalam kurikulum pendidikan di Kepulauan Riau, khususnya kurikulum di madrasah.

Untuk menghidupkan kembali muatan lokal pembelajaran TAM, penting untuk memperhatikan pendekatan yang relevan dan efektif. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengintegrasikan pembelajaran TAM ke dalam kurikulum madrasah, diantaranya yaitu:
Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kurikulum madrasah yang sudah ada. Melakukan identifikasi bagaimana muatan lokal dan kearifan lokal saat ini dapat diintegrasikan kembali ke dalam kurikulum madrasah.
Jika tidak dapat berdiri sendiri sebagai mata pelajaran, perancang kurikulum dapat melakukan identifikasi mata pelajaran yang relevan untuk menjadi wadah memasukkan pembelajaran TAM, misalnya pada mata pelajaran rumpun agama, yaitu Al-Qur’an Hadist, Akidah Akhlah, Fiqih dan SKI.
Setelah mengidentifikasi mata pelajaran yang relevan dengan TAM, penting juga untuk merancang materi pembelajaran yang sesuai. Materi pembelajaran dapat mencakup kosakata, huruf/ tulisan, tata bahasa dan cara membaca. Pertimbangkan juga untuk menyertakan bahan-bahan ajar berbasis budaya dan kearifan lokal.

Langkah selanjutnya yaitu melakukan pendekatan interdisipliner, misalnya dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadist, siswa dapat mempelajari teks-teks dalam Tulisan Arab Melayu (TAM) dan menganalisis makna dan pesan yang terkandung di dalamnya. Melalui pendekatan ini, TAM tidak hanya terbatas dipelajari untuk mata pelajaran TAM saja, tetapi juga terkait erat untuk memahami materi dari mata pelajaran yang berkaitan.
Langkah yang terakhir yaitu melakukan evaluasi dan pemantauan. Pada tahap ini, evaluasi dan pemantauan dilakukan secara berkala untuk melihat bagaimana efektivitas melakukan integrasi pembelajaran TAM dalam kurikulum madrasah. Umpan balik dari siswa dan guru sangat diperlukan untuk memperbaiki dan mengoptimalkan proses pembelajaran yang berlangsung.

Kesimpulannya, menghidupkan kembali muatan lokal Tulisan Arab Melayu (TAM) dalam kurikulum madrasah adalah langkah yang penting untuk memperkuat identitas agama dan budaya siswa. Dengan pendekatan yang relevan dan dukungan yang memadai, kehadiran kembali TAM dalam kurikulum madrasah dapat menjadi sumber kebanggaan tersendiri bagi siswa, khususnya bagi para pelajar dari Tanah Melayu. Melalui pengajaran TAM, madrasah dapat berperan dalam upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya dan kearifan lokal dimana madrasah tersebut berdiri. Kolaborasi dari semua pihak, yaitu pihak sekolah/madrasah, komunitas lokal, budayawan, dan lembaga terkait sangat diperlukan demi tercapainya tujuan pendidikan secara utuh dan menyeluruh yang dapat dinikmati oleh semua komponen pendidikan.***

banner 120x600
  • Share