Upacara 152 Tahun Kota Ranai Dibacakan Sejarah Singkat Jadinya Kota Ranai

  • Share
Spread the love

Natuna, kepripos.id – Memperingati Hari Jadi Kota Ranai ke-152 diadakan Upacara dengan pembina upacara Bupati Natuna, Wan Siswandi, S,Sos, M.Si, bertempat di halam kantor Camat Bunguran Timur, Komplek Gerbang Utaraku, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri. Kamis (27/07/2023).

Upacara diawali dengan pembacaan Sejarah Singkat  Kota  Ranai oleh Sekretaris Kelurahan Bandarsyah Haryadi, sebagai berikut;

Merujuk pada hasil penelitian, bahwa pada masa Kerajaan Sriwijaya, Natuna menjadi tempat berteduh dari amukan badai Laut Cina Selatan yang sangat ganas, sekaligus sebagai tempat untuk mengisi air bersih dan perbekalan lainya guna meneruskan pelayaran menuju Cina, Siam dan Campa. Dari berbagai catatan sejarah dan bukti tinggalan yang ditemukan di Pulau Bunguran, dapat diyakini bahwa Pulau Bunguran sudah dihuni sejak tahun 1200 Masehi.

Hal ini dapat diketahui dari silsilah Datuk yang paling tua memerintah di Pulau Bunguran, yaitu bergelar Orang Kaya Sri Serindit Dana Mahkota  yang merupakan orang Siam.
Catatan lain menyebutkan lebih tua lagi, karena dari hasil temuan para pemacok didapati keramik buatan Cina abad ke-9 Masehi. Dengan demikian dapat dipastikan juga, Pulau Bunguran sudah berpenghuni sejak abad ke-9 Masehi.
Sindu Galba dan Abdul Kadir Ibrahim dalam bukunya Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu Bunguran, bahwa pada tahun 1350 Masehi semasa kerajaan Majapahit, pelaut-pelautnya dalam perjalanan pergi dan pulang ke negeri Siam, Campa, Kamboja, Anam, dan Cina selalu menyinggahi gugusan Kepulauan Natuna. Sumber lain menyebutkan bahwa, penduduk awal Pulau Tujuh adalah mereka yang berdatangan dari Semenanjung Melayu pada tahun 1564 s/d 1616 Masehi.

 

Pada masa kepemimpinan Sultan Alaudin Riayatsyah (1550 s/d 1560 Masehi), pelayaran niaga di Laut Cina Selatan sampai Pulau Bunguran-Natuna, Anambas dan Tambelan sangat aman dengan kekuasan Laksemana Hang Nadim dan Sri Bija Diraja menjadi Lang-Lang Laut yang mampu menumpas para Lanun dan Bajak Laut.

Pada masa kerajaan Majapahit dipimpin oleh Raja Kertabumi (1466 s/d 1478 Masehi), Pulau Siantan dan Pulau Serindit diserahkan ke Malaka sebagai hadiah perkawinan Sultan Malaka dan Raden Galuh Chandra Kirana, yaitu Putri Majapahit. Dalam sejarah perjalanan Tengku Fatimah dari Johor ke Pulau Serindit disebutkan, pada saat tiba di Segeram rombongan berjumpa dengan Demang Megat, yang pada akhirnya Demang Megat dinikahkan dengan Tengku Fatimah dan diberi gelar Orang Kaya Dina Mahkota. dengan demikian, maka Pulau Serindit berpemerintahan sendiri atas kuasa Tengku Fatimah dan berpusat di Segeram. Sejak itu mulailah dibangun mahligai dari kayu Bungur, lalu dari sinilah Pulau Serindit diganti nama menjadi Pulau Bunguran pada tahun 1616 Masehi.

 

 

Pada tahun 1853 Masehi, Orang Kaya Dina Mahkota digantikan oleh Orang Kaya Wan Rawa. Dengan pertimbangan keamanan Bandar Penibung mudah dijangkau oleh oleh bajak laut, maka pusat pemerintahan dipindahkan dari Penibung ke Mahligai (Sungai Ulu), yaitu suatu tempat di pedalaman Pulau Bunguran.

Bertunduk patuh pada hasil penelitian Dr. Nismawati Tarigan dan Dra. Anastasia Wiwik Swastiwi,.MA dalam bukunya yang berjudul Hari Jadi Kota Ranai, maka ditetapkan tanggal 27 Juli 2017 sebagai hari jadi ke-146.
Dengan demikian, kalau diurut kebelakang, dapat disimpulkan bahwa hari jadi Kota Ranai berawal pada tahun 1871 Masehi.

Keputusan tersebut diambil dalam seminar akhir yang dilaksanakan bersama Balai Pelestarian dan Nilai Tradisional Tanjungpinang pada tahun 2009 di Ranai.
Kota Ranai, sebagai Ibu Kota Kabupaten Natuna telah ditetapkan hari jadinya oleh Pemerintah Kabupaten Natuna.

Upacara tersebut juga dihadiri,  Sekretaris Daerah (SEKDA) Boy Wijanarko. Ketua LAM Kepri Natuna, Ketua dan Wakil  DPRD Natuna, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Para Camat di Bunguran Besar, Kades se Bunguran  dan tokoh masyarakat lainnya.

Bupati Natuna Wan Siswandi dalam amanatnya mengatakan,  kedepannya untuk kegiatan Ulang Tahun Kota Ranai ini bisa meriah lagi.

“Minimal bisa lah buat kegiatan seperti Hari jadi Kabupaten Natuna, ini sudah ratusan tahun umurnya (Kota Ranai-red) seharusnya bisa membuat kegiatan yang lebih meriah lagi,” ujar Siswandi.

Lanjut Siswandi,  Kota Ranai ini memiliki sejarah yang diperjuangkan oleh nenek moyang kita. Jadi, kita sebagai generasi penerus harus menghargainya.

“Kita tidak boleh melupakan sejarah yang diperjuangkan oleh nenek moyang kita dulu, karena itu salah satu bentuk menghargai sejarah, dan apa yang kita perbuat hari ini juga termasuk menghargai sejarah,” tutup  Siswandi.

Sebagai sumbangsih Lurah dan Kades se kecamatan Bunguran Timur, pemerintah daerah menyerahkan piagam penghargaan kepadanya di hari jadi Kota Ranai ke 152 ini.* (Dayat)


Spread the love
  • Share